Sebagai kampus "sejuta umat" tentu saja elitisme sulit terbentuk. Berbeda dengan kampus yang sulit masuknya (misal saringan berdasarkan nilai yang ketat, atau biaya yang tinggi), maka pada kampus seperti itu elitisme mudah terbentuk. Dampak era penjajahan dan kebangsawanan, menjadikan publik Indonesia masih mencintai "elitisime, dan eksklusifitas" ini, sehingga melupakan mandat rakyat bahwa pendidikan itu untuk semua rakyat.
Model elitisime ini mau tidak mau sangat di"pengaruhi" gaya USA, berbeda dengan gaya Eropa yang berbau pemerataan pendidikan (diwarnai sosialisme , bukan komunisme lho). Dampak dari elitisme pendidikan ini, biaya kampus jadi tinggi, kampus berlomba-lomba membuat image "elite", "mewah" dlsb. Orang menilai kampus elite lebih baik daripada kampus "merakyat" (tidak peduli bagaimana proses pendidikan, jumlah pengajar dsb)
Karena kampus Gunadarma yang masih mencoba tetap berada di jalur yang dimandatkan rakyat yaitu "pemerataan pendidikan" maka sering kali warga Gunadarma, alumni atau mahasiswa, menjadi "malu-malu kucing" mengakui bahwa dirinya adalah alumni Gunadarma. Sebab kesannya "kurang elite". Seringkali bila mereka sempat S2 di kampus lain (misal PTN), dia lebih suka mengakui sebagai alumni kampus tersebut alih-alih sebagai alumni Gunadarma.
Apalagi banyak yang merasa apa yang mereka capai (kemampuan, skill dsb) bukan mereka peroleh dari Gunadarma, tapi di tempat kerja mereka atau di tempat pelatihan. Tapi mereka lupa bahwa dasar pengetahuan yang telah mereka terimalah, yang memungkinkan mereka belajar mandiri atau belajar hal lain tersebut. Mirip pemain musik Progressive Metal yang banyak berlatar belakang klasik, mereka bisa membuat musik Prog Met tanpa pernah diajarin musik tersebut ketika kuliah musik, Cukup dasar musik klasik yang kuat, tapi toh pemain musik Prog Met itu tidak pernah mengatakan bahwa kemampuan musik yang mereka capai itu bukan karena mereka belajar musik klasik.
Apakah Anda malu mengakui sebagai alumni Gunadarma?
Tags: Imw85 Pendidikan